Selasa, 16 Februari 2010

MELINTAS DIANTARA KESEMPATAN DAN KEBERUNTUNGAN

MELINTAS DIANTARA KESEMPATAN DAN KEBERUNTUNGAN

Aristoteles berkata: “Kita adalah apa yang berulangkali kita lakukan. Jadi kehebatan bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan”.

Saya menulis ini dipengaruhi oleh perasaan yang berkembang belakangan ini, yaitu ketika saya mulai merasakan bahwa Hari Sabtu adalah sebuah hari yang sangat menyenangkan dan sangat saya nanti-nantikan kedatangannya. Karena apa? Karena pada Hari Sabtu ada jadwal training bagi para distributor Nu Skin, yang diselenggarakan pada pagi hari, dan dilanjutkan dengan BOM pada petang harinya.

Dalam kesempatan menghadiri training tersebut, saya akan bertemu dengan para pebisnis Nu Skin yang memiliki kualitas khusus yang begitu kuat dan dinamis, bertemu dengan para trainer yang memancarkan karisma atau magnet sebagai motivator, dan sekaligus inspirator.

Ketika mendengarkan materi training, dan duduk dalam ruangan yang sama, hidup seakan mudah, energi positif membludak, semangat membara. Kesuksesan seakan sudah ada di depan mata. Kesannya, semua masalah bisa diatasi dengan mudah.

Tetapi, ketika jam training berakhir, dan saya kembali kepada lingkungan di luar komunitas Nu Skin, kembali saya menghadapi kenyataan dan menemukan suasana yang berbeda 180 (seratus delapan puluh) derajat dengan suasana dalam ruangan training tadi.

Saya bertemu kembali dengan hiruk pikuk yang mengacaukan ketenangan, bertemu dengan orang-orang statis, digempur oleh input negatif. Energi positif melemah, semangat berhamburan dan terasa kehampaan menyelinap. Yang terbayang adalah kesulitan, penolakan, semua nampak susah dan melelahkan.

Kemana tadi wajah-wajah yang bersemangat dan bersahabat? Di depan saya sekarang bertaburan orang-orang yang bergantung kepada gaji yang pas-pasan, pada pekerjaan-pekerjaan yang kurang menjanjikan. Saya berhadapan dengan orang-orang yang harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan agar bisa mempertahankan gaya hidup. Orang-orang yang terperangkap dalam pekerjaan, baik pekerjaan yang berpenghasilan rendah ataupun tinggi, adalah korban-korban dari penciptaan penghasilan, dan tanpa disadari orang-orang tersebut menjadi ‘budak’ dari ‘penghasilan sementara.

Menurut majalah Business Week, “Bagi rata-rata pekerja diperlukan setengah dari umur mereka untuk bisa membeli rumah, menabung sejumlah uang dan mengumpulkan uang untuk masa tua. Tetapi kalau pekerja tersebut menganggur akibat kehilangan pekerjaan, hanya dalam waktu enam bulan saja pekerja tersebut akan kehilangan semua itu.” Mengerikan bukan? Tapi inilah fakta yang saya temui dalam masyarakat luas yang nyata, saat saya tidak sedang berada dalam ruangan training di Nu Skin. Dan ketika saya menawarkan alternatif jitu untuk memutar haluan dengan meniru penciptaan kekayaan sejati, mayoritas orang-orang tersebut menolak, sebagian hanya melirik sebelah mata, sebagian lagi mencibir. Padahal aktivitas yang sedang mereka lakukan adalah manifestasi dari ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, mati kemudian.’

Pertanyaannya, bagaimana saya harus bersikap? Mendapati kenyataan ada dua kutub yang berbeda. Saling tarik menarik. Di luar sana saya harus menghadapi ini sendirian, walau tahu memang ada sahabat (upline), yang bisa saya mintakan bantuan, tetapi tak mungkinlah kalau sedikit-sedikit saya mengadu, sedikit-sedikit saya mengeluh, karena sahabat-sahabat para uplinepun pasti punya kesibukan dan kesulitan sendiri.

Saya harus realistis, saya memiliki 7 (tujuh) hari dalam seminggu, dan Hari Sabtu hanya sekali saya dapatkan dalam rentang waktu seminggu itu. Dalam melewati 6 (enam) hari yang berbeda itu, saya mesti menerapkan apa yang telah saya pelajari di Hari Sabtu yang mengesankan.

Berangan-angan, dan terkenang-kenang pada materi training, tentu tidak cukup, karena yang saya kejar bukan sukses dalam artian ‘fatamorgana’, saya harus bertindak dan ambil kesibukan. Hendry David Thoreau, dengan bijak mengingatkan, “Kalau hanya sekedar menyibukkan diri, percuma saja, karena semut-semutpun bisa melakukannya. Yang penting adalah menentukan jenis kesibukan yang Anda jalani.”

Saya mengingat sederet daftar, beragam jenis kesibukan yang saya pilih untuk saya lakukan, yang selalu didengungkan oleh upline saya, diantaranya: meluangkan waktu untuk mencapai tujuan, menjadi diri sendiri bukan orang lain, percaya bahwa saya berhak meraih sukses, bersiap mengalami kesulitan, menghentikan perilaku buruk sebelum menghancurkan diri sendiri, menentukan tujuan yang realistis dan waktu untuk mencapainya, berlari menuju tujuan dengan sekuat tenaga, bekerja dengan integritas, membuat lompatan, keluar dan buat jaringan, tinggalkan para pembunuh impian, tidak membutuhkan persetujuan orang lain untuk mencapai tujuan sendiri, mengenali kesempatan, berfokus pada penyelesaian bukan persoalan, menghindari bahaya, peduli pada citra diri, dan selalu bicara kepada orang tentang bisnis ini dan peluangnya, berkemauan keras dan maju dengan penuh keberanian dan banyak lagi yang inspiratif.

Terus berulang-ulang mengingati hal-hal yang mesti saya lakukan, membuka pikiran, karena pikiran itu bagaikan ‘parasut’, dia hanya akan bekerja kalau sudah terbuka. Tapi berpikir, mengingat dan berbicara tentang peluang saja tidak cukup, saya harus ‘bertindak’. Bayangkanlah seorang pasien yang menderita sakit dan berobat ke dokter spesialis ternama, lalu dokter memberi resep untuk mengobati penyakitnya. Apakah pasien tersebut dapat sembuh dari penyakitnya dengan hanya berulang-ulang membaca resepnya, membicarakan dan membahas tentang kehebatan dokter yang menuliskan resep tersebut dengan keluarga ataupun teman-teman? Hampir bisa dipastikan, penyakit yang diderita tidak akan sembuh bahkan mungkin bertambah parah, karena yang harus dilakukan adalah bertindak, menebus obat tersebut di apotek, dan meminum obat tersebut sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Para pelopor/upline telah menatah jalan yang sekarang saya tapaki, telah menggali sumber air yang sekarang saya minum. Saya akan meniru untuk menyamai bahkan melebihi mereka. Seorang penyair pernah berkata: “Walau aku datang sebagai orang yang paling terakhir, tapi aku dapat menggapai apa yang tidak dapat digapai oleh orang-orang yang datang terdahulu.”

Keberadaan para upline, pelopor/mentor sangat saya butuhkan, karena memang takkan ada seorangpun yang bisa melaju ke tangga sukses dengan bekerja sendiri. Penting bagi saya untuk memiliki orang yang percaya pada pandangan saya, mimpi saya, lebih beruntung lagi memiliki orang yang bersedia berkorban untuk membantu saya mewujudkan impian.

Upline yang saya butuhkan adalah para pemandu bijak yang bersedia terlibat secara pribadi demi kesuksesan saya, saya harus menghabiskan banyak waktu untuk membangun hubungan saling percaya dan hormat dengan mereka. Mereka mungkin sudah meniti jalan yang ingin saya telusuri, mereka mungkin saja pernah melakukan kesalahan, dan mereka pasti belajar dari kesalahan tersebut dan kemudian peduli membantu saya menghindari kesalahan atau jebakan yang sama.

Saya sempat terperanjat menyaksikan bahwa para upline di Nu Skin memiliki ketulusan untuk mengulurkan bantuan yang saya butuhkan. Sungguh menyenangkan memiliki seseorang yang kita tahu berada di pihak kita, meskipun tidak sempurna tapi petunjuknya pasti berharga. Saya tidak akan pernah malu untuk meminta nasehat, bukankah lebih baik mengajukan pertanyaan bodoh daripada melakukan kesalahan bodoh?

Menyadari bahwa ada orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri adalah suatu anugerah besar, dan ini adalah ‘keberuntungan’. Keberuntungan membayangi segala sisi kehidupan manusia, keberuntungan dapat kita raih dengan kerja keras dan bersiap menghadapi kesempatan, memposisikan diri untuk berada pada tempat dan waktu yang tepat. Kata orang, keberuntungan dapat kita kendalikan, tetapi kesempatan tidak dapat dikendalikan, intuisi kita harus peka untuk mengenali datangnya kesempatan.

Selalu ada alasan mengapa orang melakukan sesuatu, sayapun memiliki alasan mengapa saya menuliskan pengalaman pribadi dalam catatan yang berkesinambungan. Ada banyak orang yang ‘baru mulai’ bergabung dalam bisnis ini, ada banyak juga orang yang ‘berniat akan’ bergabung. Sebagian mungkin mengalami perasaan yang sama dengan yang saya rasakan, seperti yang telah saya tuliskan di permulaan. Sebagai pemula dan sedang menuju proses metamorfosa, tentu banyak kendala yang akan kita temui. Mudah-mudahan saya bisa berbagi pengalaman.

Lazimnya, sebelum memulai untuk menempuh perjalanan, kita luangkan waktu untuk memeriksa bekal yang akan kita bawa, demikian pula dalam menggerakkan bisnis ini, tidak ada salahnya kita membekali diri sebelum berinteraksi langsung dengan prospek yang akan kita tuju.

Perusahaan yang berkembang pesat, produk unik dan inovatif, sistem pemasaran terbaik adalah modal awal keberuntungan buat kita, dan ditambah lagi dengan upline yang istimewa, selalu kreatif memberi ilham, menularkan antusiasme dan energi yang memunculkan imajinasi yang hebat, adalah keberuntungan berikutnya.

Dibekali dengan keberuntungan yang berganda ini, hendaknya kita pandai memanfaatkan, kreatif menemukan kesempatan dan menangkapnya. Banyak orang mempunyai gagasan mengenai kesempatan bisnis dan peningkatan karier, tetapi mereka membiarkannya berlalu begitu saja. Kita tidak demikian, kita akan bersikap terbuka terhadap kesempatan, mengejarnya dengan penuh semangat. Kita tidak perlu menyembunyikan identitas sebagai pebisnis MLM, jangan memplesetkan MLM menjadi MaLu Mengaku. Ini adalah kesempatan yang memancing keberuntungan.

Kita belajar dari para upline, sebagian besar mereka adalah orang sukses yang mempunyai jaringan teman dan bisnis yang luas. Mereka bekerja keras untuk tetap berhubungan dan membina jaringan. Mereka terbuka terhadap informasi. Mereka tahu bahwa informasi adalah kekuatan. Kita akan belajar mendengarkan, kita akan bertanya, menganalisa, dan kemudian dengan kecerdasan yang terasah kita bisa dengan tepat menghasilkan sebuah kesempatan.

Memang semua keberuntungan tidak bisa dihasilkan dalam sekejap. Kita sadari sepenuhnya. Kita perlu konsisten untuk menggapainya. Harus optimis dan paham bahwa kita sendirilah yang mengendalikan kehidupan. Kita belajar untuk tidak terbenam dalam masalah, bahkan ketika hal buruk terjadi. Optimisme adalah senjata rahasia orang-orang kaya, terkenal dan sukses.

Saya perlu menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada upline saya, yang telah mendedikasikan kehidupannya, membagi pengalaman dan pengetahuannya, dalam pengabdian panjang membina distributor pemula seperti saya, agar sayapun dapat berdiri sama tinggi, dalam mengenali kesempatan, meraih keberuntungan dan menggapai sukses bersama Nu Skin Enterprise.

Rabu, 10 Februari 2010

Testimoni NU SKIN

BASED ON TRUE STORY

SEBUAH CATATAN PRIBADI

NU SKIN

DALAM PARADIGMA BARU

BAGAIKAN ‘HABIS GELAP TERBITLAH TERANG’ VERSI BISNIS.

DITULIS DI JAKARTA, SENIN, 01 FEBRUARI 2010

Bermula, pada suatu hari, saya sudah agak lupa hari, tanggal dan bulannya, sekitar bulan Nopember tahun 2009. Maklum saya tidak terbiasa mengingat dan mencatat kegiatan harian. Saya iseng membaca iklan peluang usaha di Harian SINDO. Ada satu iklan yang menggelitik pikiran dan menyisakan tanda tanya. Bunyi iklannya seperti ini: “Jika anda tidak ingin menikah dengan pekerjaan anda dan masih terbuka untuk peluang yang jauh lebih baik”. Hub: Dion 0813 8015 8785.

Bahasa iklannya memang menimbulkan penasaran, pemasang iklan berhasil memancing pembaca untuk mengetahui lebih lanjut. Kalimat ‘tidak ingin menikah dengan pekerjaan anda’ saya simpulkan sebagai bentuk pekerjaan yang tidak mengikat dan bisa setiap saat kita lepaskan. Saya hubungi nomor HP tersebut melalui sms dan menanyakan apa maksud yang terkandung dalam bahasa iklan tersebut. Pada kesan pertama, pemasang iklan sudah memberi kesan yang bagus, karena membalas sms saya dengan menelpon balik ke nomor telepon saya. Biasanya sms hanya dibalas dengan sms pula. Namun kebetulan HP saya bermasalah, tidak bisa dipakai menelpon, hanya bisa dipakai sms. Sebenarnya mudah untuk memperbaiki HP saya, tapi saya memang sengaja membiarkan HP tersebut dalam kondisi seperti itu.

Ada banyak alasan, diantaranya:

Pertama, saya bisa menghindar untuk tidak berbohong, karena kadang kalau mendadak bicara, sering saya terpaksa berbohong untuk menolak sesuatu yang tidak ingin saya kerjakan. Sementara dengan sms, ada waktu yang cukup untuk berpikir dalam memberi jawaban dan membantu saya untuk bersikap jujur.

Kedua, dengan jumlah keluarga dan teman yang cukup banyak, saya sudah rasakan akibatnya, saya jadi banyak menghabiskan waktu untuk bicara di telepon. Selain secara kesehatan pasti merusak karena terkena ‘radiasi’ kata orang, saya juga pasti kelelahan karena terkadang telepon berdering tiada henti, ganti berganti. Kini hampir semua keluarga dan teman tau dan maklum bahwa HP saya hanya bisa sms. Dan rasanya cukup nyaman dan menyenangkan. Tentu saja bila ada kepentingan yang mendesak yang mengharuskan saya berbicara di telepon, dengan mudah saya bisa gunakan telepon lain yang berfungsi.

Berlanjut kepada sang pemasang iklan, dia tidak panjang lebar menjelaskan via telepon, tapi menyediakan waktu untuk bertemu dan menjelaskan lebih detail. Akhirnya kami sepakati untuk bertemu di Mal Arion Rawamangun, karena itu adalah tempat yang dekat dengan domisili keluarga saya.

Pada pertemuan pertama dengan pemasang iklan, saya panggil nama saja yaitu DION, karena usianya juga tidak terpaut jauh dengan usia anak saya. Saya mendapat cukup banyak penjelasan tentang berbagai hal yang terkait dengan pola pikir, cara pandang ataupun beragam strategi/sistem usaha. Dion menjelaskannya dengan sangat sabar, santun dan smart. Lagi lagi saya terkesan. Dion banyak memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan apa yang ‘saya inginkan’, dan dia tidak terlalu memaksakan untuk menyampaikan tentang apa yang ingin ‘dia tawarkan’. Dion hanya menyinggung sedikit sekali soal produk yang bisnisnya sedang dia kerjakan.

Meskipun saya tidak terlalu berpengalaman dalam bisnis, setidaknya saya dapat menilai, bahwa Dion memberikan nuansa baru, tidak seperti yang biasa saya temui. Biasanya orang terus saja menjelaskan tentang beragam keistimewaan yang melekat pada produk yang dibisniskan, lalu cenderung agak mendesak agar kita turut bergabung menjalankan bisnis yang serupa. Tetapi Dion lain dan sangat berbeda. Saya merasa tidak perlu lagi mempertimbangkan produk atau sistemnya, karena pada dasarnya saya menaruh kepercayaan yang besar kepada Dion secara personal, dan percaya sepenuhnya bahwa dia sedang mengarahkan saya ke jalan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup.

Sikapnya yang penuh perhatian, bahasanya yang selalu santun, jelas dan cerdas, selalu menjawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang memuaskan. Kesabaran yang cukup tinggi dan kesediaan berkorban dalam segi waktu, tenaga, pikiran dan biaya, kenyataan ini sungguh bukan sesuatu yang ‘biasa’, ini ‘luar biasa’ dan istimewa.

Apapun pertanyaan saya dan berapa banyakpun permintaan saya yang terkait dengan keingintahuan saya tentang bisnis yang dia kenalkan, selalu direspon dengan positif. Bahkan beberapa hal ada yang sama sekali tidak terkait dengan bisnis, tetapi Dion tetap selalu bersedia memberi tanggapan, hampir 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, tidak mengenal libur. Malah terkadang saya yang menjadi sungkan karena merasa terlalu cerewet, ribet dan membebani Dion.

Pendekatannya saya rasakan seperti keluarga, bahkan Dion berkenan repot-repot mencari alamat tempat tinggal saya untuk melakukan demo penggunaan produk yang selanjutnya saya kenal sebagai GALVANIC SPA, dari perusahaan NU SKIN, USA.

Meski sekilas, saya sudah bisa menangkap bahwa bisnis yang Dion kembangkan adalah bisnis yang menerapkan sistem MULTI LEVEL MARKETING / MLM atau NETWORK MARKETING. Jujur saya lesu dan kurang minat bergabung dalam bisnis seperti ini. Meskipun tidak sampai dalam taraf membenci, namun saya tidak bisa menyukai sistem ini. Terbayang oleh saya, setumpuk starter kit dari berbagai produk MLM yang saya pernah turut bergabung di dalamnya, puluhan tahun yang lalu, lebih dari selusin yang saya ikuti. Pernah pula mengikuti presentasi dari produk produk tersebut, namun saya melakukannya hanya karena saya tenggang rasa kepada teman yang mengajak saya. Saya sulit untuk berkata ‘tidak’, saya adalah type orang yang tidak sampai hati untuk membuat orang kecewa apalagi sedih karena saya mengabaikan apalagi menolak ajakannya. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah mampu menolak memberi bantuan kepada orang yang meminta bantuan kepada saya. Tidak hanya masalah bisnis, bahkan ini melebar kepada masalah lain.

Tetapi saya tidak pernah menyesal memiliki kelemahan ini, dan tidak juga berusaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan kelemahan ini. Andaipun ini disebut kebiasaan buruk, yang penting bagi saya keburukan ini tidak merugikan orang lain. Yang dirugikan adalah pribadi saya sendiri.

Kembali kepada masalah MLM, sejatinya saya tidak pernah aktif menjalankan bisnis yang saya ikuti, saya pasif dan hanya menjadi pengguna dari produk-produk tersebut. Karena sejak awalpun saya tidak memiliki ketertarikan. Dan teman yang memperkenalkanpun tidak ada yang sungguh-sungguh mengajarkan pengetahuan kepada saya agar saya memahami seluk beluk bisnis ini dan keunggulan sistemnya. Mereka terlalu sering membahas soal target penjualan dan merekrut orang sebanyak-banyaknya, dengan hitungan ‘kompensasi’ yang rumit dan menjemukan. Dan sayapun tidak suka karena perusahaan MLM ini saya nilai sangat kikir dan tidak mau berkorban untuk kita yang bergabung menjadi distributornya. Semua mesti kita yang mengeluarkan biaya, bahkan sekedar untuk mendapat info berupa brosur sederhanapun mesti kita beli, padahal itu dibutuhkan untuk mempromosikan produk mereka, yang imbasnya tentu akan meningkatkan penjualan mereka juga.

Beberapa produknya memang ada yang berkualitas bagus, sehingga sayapun tidak merasa ‘rugi-rugi amat’ dengan membeli produknya, tetapi untuk mengembangkannya, ‘nanti dulu’, saya tidak ‘sudi’ terlibat terlalu jauh dalam perusahaan ‘kikir’. Lalu hal lain ada juga yang membuat saya tidak sreg, yaitu harganya yang saya anggap selalu nampak ‘mahal’. Sampai-sampai timbul kecurigaan saya, bahwa sebenarnya perusahaan tidak sungguh-sungguh untuk berbagi keuntungan dengan distributor, dan sangat memberatkan konsumen. Konsumen ‘dipaksa’ untuk menanggung biaya-biaya yang dialokasikan untuk komisi para distributor.

Dan berbanding lurus dengan produk yang bagus, MLM sering juga menawarkan produk yang aneh dan seperti ‘mengada-ngada’, barang yang tidak terlalu penting tetapi dihargai mahal, belum lagi tercium aroma perjudian dalam beberapa produk, yang barangnya tidak ada atau terlalu minim dibandingkan dengan perputaran uang yang dimainkan.

Berikutnya, saya tidak mempedulikan apakah ini fakta atau opini, yang pasti tidak saya temukan alasan yang kuat, yang memotivasi saya untuk terjun ke bisnis ini. Saya langsung bertindak ‘menjauhi’ sebelum berpikir. Lebih parah lagi saya bahkan sempat menuduh bahwa orang yang terlibat dalam bisnis ini adalah kumpulan orang frustrasi, yang tidak mampu berpikir jernih karena sudah mau bersusah-payah untuk memajukan perusahaan orang lain.

Dalam pandangan saya, mereka adalah orang-orang yang kurang kerjaan, senang mengkhayal dan saya tentu tidak rela menjadi bagian dari kelompok ‘utopis’.

Kemudian sayapun merasa tidak penting untuk mengenal lebih jauh tentang MLM, karena melihat bahwa produk MLM hanya berkutat di suplemen, alat-alat kebersihan dan kosmetika, tidak ada yang unik.

Sampai akhirnya saya bertemu Dion dan mendapat pencerahan yang sangat berarti, seakan mampu membuka wawasan dan cara berpikir saya, bahwa sebenarnya dalam sistem MLM ini banyak terkandung keunggulan dibandingkan dengan bisnis konvensional. Perusahaan seharusnya memberi penghargaan kepada orang seperti Dion, yang selalu memotivasi dan tidak jemu-jemu memberi masukan yang inspiratif.

Lalu Dion memperkenalkan saya dengan Pak Yoki dan mengatur pertemuan dengan beliau di BRI Semanggi. Pak Yoki mempresentasikan secara singkat dan padat tentang peluang bisnisnya, dan perolehan yang bisa kita wujudkan dengan bergabung dalam mengembangkan bisnis NU SKIN. Berbeda dengan kebiasaan lalu yang ujung-ujungnya tidak pernah berhasil menimbulkan minat, kali ini saya merasa tertarik. Alasan pertama memang masih cenderung kepada profit yang mungkin saya dapatkan. Namun seiring dengan tujuan mendapatkan keuntungan materi, ada banyak hal lain yang saya temukan di sini yang memacu dan menyemangati saya untuk bergabung.

Produk unik dan berkualitas, berupa alat perawatan wajah yang multi fungsi, didukung oleh penemuan teknologi tinggi di bidang genetika, monopoli dalam produk yang membuat kita leluasa karena bisa melaju tanpa kompetitor, lebih dominan dibutuhkan wanita dan ini prospektif, karena wanita umumnya cenderung konsumtif, sangat peduli penampilan dan banyak sekali yang selalu ingin tampak muda dan takut kelihatan tua.

Keunikan ini bagi orang yang jeli menangkap peluang menjadi modal utama untuk meraih kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang, dan memudahkan jalan untuk mencapai tujuan atau target yang diharapkan. Perhitungan fee, kompensasi yang adil dalam sistem penjualannya membuat kita ringan melangkah, karena kita bekerja untuk kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Di perusahaan MLM lain kadang kita seperti sapi perah yang bekerja keras, tetapi keuntungan kita hadiahkan kepada orang yang lebih dahulu bergabung, dan kita yang bergabung belakangan tidak akan pernah mampu menyusul pendahulu kita dalam jenjang karir maupun penghasilan.

Kemudian setelah pertemuan singkat dengan Pak Yoki, saya mendapat undangan untuk menghadiri presentasi resmi di kantor Nu Skin. Sejujurnya, yang menimbulkan minat kepada saya tidak semata fokus kepada produk dan sistem. Ketertarikan kepada kepribadian Dion dan Pak Yoki telah mengawali diri saya untuk bergabung dengan Nu Skin. Mereka yang tidak pernah lelah membantu saya untuk belajar memahami detail bisnis ini dengan jujur, mereka yang tidak pernah menutupi kesulitan- kesulitan yang mereka hadapi dalam mengembangkan bisnis ini, mereka yang rela berbagi pengalaman bahkan dalam masalah yang sangat pribadi, mereka yang selalu memberi solusi untuk mengatasi kendala yang saya temui, mereka yang selalu memancarkan semangat, teguh dan tangguh dalam bersikap.

Kesemua ini adalah pujian yang tulus yang memang keluar dari hati nurani saya yang paling dalam. Saya termasuk orang yang sulit memberikan pujian, dan ini juga merupakan pengalaman pertama dalam hal memuji orang dan menemukan kelebihan yang berlimpah yang berpadu dalam sifat seseorang.

Mereka mengenalkan kepada saya sikap hidup positif, mereka membuat saya merasa berharga dan membuat saya menyadari bahwa sayapun memiliki potensi untuk bisa berbuat lebih maksimal. Mereka sangat supel, familiar dan kooperatif, membuat saya merasa nyaman, karena kini yakin bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi berbagai hambatan , bahwa saya memiliki mitra yang akan selalu mendukung perjuangan saya. Mereka yang tidak pernah pelit dengan ilmu pengetahuan dan gemar membagi dengan gratis, mereka yang selalu menularkan semangat dan mereka dengan banyak lagi kelebihan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Dengan kerja keras dan didukung oleh beragam fasilitas produk yang berkualitas dan inovatif serta didampingi oleh mitra yang handal, kreatif, berdedikasi tinggi, sebenarnya target meraih sukses bukanlah sekedar mimpi disiang bolong. Ini bisa diwujudkan dengan sandaran terakhir adalah pertolongan Allah.

Sepanjang hidup saya, jujur saja, belum pernah saya bertemu orang dalam waktu singkat dan langsung ‘nyambung’, dan merasa dekat seperti kepada keluarga sendiri. Bagi saya hubungan ini sangat berharga dan mahal nilainya. Saya ingin mempertahankan hubungan ini bahkan dalam konteks yang ‘lebih’ daripada mempertahankan ‘bisnis’ itu sendiri.

Dalam perjalanannya, memang saya berjalan lambat dan tidak segera bergabung, bukan karena saya meragukan atau perlu berpikir ulang, namun lebih kepada alasan pribadi karena kondisi keuangan saya yang minim dan pas-pasan, dan banyak sekali keperluan pribadi dan keluarga yang tidak bisa saya elakkan. Saya adalah ‘single parent’ dengan anak berjumlah 9 (sembilan) orang yang semuanya masih menempuh pendidikan. Jadi meskipun investasi hanya senilai Rp. 4.200.000,00 (empat juta dua ratus ribu rupiah), namun bagi saya tetap sering kesulitan untuk menyisihkannya.

Sambil menunggu kemampuan finansial terpenuhi, saya tidak tinggal diam, saya lakukan apa yang dapat saya lakukan. Saya berupaya menghubungi orang-orang yang saya kenal, di lingkungan keluarga, teman-teman sepermainan, teman-teman sekolah sejak TK sampai PT, teman-teman bisnis maupun orang-orang yang baru saya kenal dan saya temui, dimanapun berada. Saya kenalkan tentang bisnis ini, produknya, sistemnya, peluang bisnisnya, kebaikan-kebaikan yang mengiringinya. Apa yang pernah saya dengar, saya saksikan, saya baca, semua yang saya ketahui, semua saya ungkapkan.

Saya nikmat melakukan semua ini, karena semakin saya banyak mengajak orang, semakin terasa pula bahwa dampak positifnya kembali kepada diri saya. Saya menjadi lebih optimis, lebih sabar, pengertian, lapang dada, lebih penyayang kepada sesama dan hubungan kepada Allah menjadi lebih dekat, karena saya berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang menyenangkan dan sekaligus menyebalkan . Saya langsung mendekat kepada Allah untuk memohon kekuatan dan kesabaran bila saya menemui penolakan, penghinaan, sikap meremehkan dari orang yang saya ajak. Dan sayapun akan mendekat kepada Allah untuk mensyukuri nikmat dan karuniaNya bila saya mendapat respons positif, penghargaan, antusias dari orang yang saya ajak. Jadi apapun kondisinya, hasilnya saya tetap semakin dekat kepada Allah.

Yang saya lakukan tentu masih sangat sederhana, karena keterbatasan pengetahuan saya tentang produk ini maupun tentang sistemnya. Saya jauh dari mampu untuk melakukan sebaik dan sesempurna yang Dion dan Pak Yoki lakukan. Tetapi saya akan terus belajar, belajar dan belajar semaksimal kemampuan yang ada pada saya. Meski terkadang saya merasa bahwa saya agak terlambat mengingat usia saya saat ini yang sudah 47 tahun. Tetapi bukankah

terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali?

Saya merasa beruntung masih diberi kesempatan untuk mengenal dunia bisnis yang lain, dunia yang penuh optimisme, antusiasme, dunia yang penuh kasih sayang, saling kerjasama, jauh dari intrik-intrik saling merugikan dan menjatuhkan. Saya berterimakasih kepada Dion khususnya dan kepada Pak Yoki dan team umumnya, karena atas kebaikan dan jasa merekalah yang telah mengantarkan saya sampai ke dunia bisnis ini, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan yang banyak. Saya bersyukur kepada Allah SWT yang selalu menolong saya, memberi kesehatan dan kesempatan tiada henti, sampai saya mengenal bisnis yang cukup menggairahkan ini.

Hari ini, Senin, 01 Februari 2010, saya mulai secara resmi bergabung menjadi distributor di Nu Skin. Saya belum dapat membayangkan ke depannya akan berbentuk seperti apa? Saat inipun saya belum menjadikan aktivitas baru ini sebagai sumber penghasilan saya. Saya masih mengerjakan bisnis lain, yang tradisional, konvensional atau apalah namanya. Hari ini saya memposisikan sementara ibarat petani yang hanya fokus untuk menabur benih, memberi pupuk dan merawat sampai tiba saatnya menuai /memanen hasilnya. Baik atau buruknya, tinggi atau rendahnya kualitas hasil panen nanti, akan sangat bergantung kepada seberapa bagus dan seberapa keras usaha saya.

Apakah saya mampu bertahan untuk menjaga spirit dan menjaga konsistensi? Ataukah saya menjadi layu sebelum berkembang? Apakah saya bisa merubah tantangan menjadi peluang? Ataukah saya akan menjadi orang yang kalah sebelum memulai pertempuran? Pilihan sepenuhnya ada di tangan saya, hendak dibawa kemana pilihan ini?

Saya tidak bisa mengandalkan bantuan terus-menerus dari Dion dan Pak Yoki, saya tidak boleh merasa bangga dengan keunikan dan kehebatan produk, semua pendukung itu hanya pemeran pembantu, sayalah pemeran utama merangkap produser dan sutradaranya, dan saya juga yang akan menjadi penonton sampai akhir pertunjukannya.

Untungnya, dalam network marketing atau MLM, saya tidak perlu membuang waktu untuk mengolah pikiran atau berulang-ulang mencoba cara baru, karena yang mesti saya prioritaskan adalah menjadi ‘peniru yang ulung’, yang mahir meniru orang-orang yang sebelumnya telah meraih sukses di jalur ini.

Hari pertama setelah resmi menjadi distributor, saya berkesempatan mengikuti training kilat yang dibawakan oleh Pak Yoki. Sebagai catatan, saya ingin infokan bahwa jangankan mendengar pemaparannya, baru membayangkan orangnya saja, sudah bisa menimbulkan semangat. Itulah keistimewaan Pak Yoki. Jadi tidak heran, bila trainer sekaliber Pak Yoki menghasilkan generasi sehandal Dion, dan kedepannya mudah-mudahan lahir generasi baru yang mewarisi semua kebaikan dan keistimewaan ini.

Saya membaca business portfolio, saya terkesan dengan visi dan misi perusahaan ini, dimana begitu banyak pesan moral yang disampaikan. Sentuhan spiritualnya sangat mengena, perusahaan ini sungguh amat serasi, memadukan kepentingan bisnis yang bertujuan menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan keagungan moral spiritual yang menjiwai setiap gerak langkah orang-orang yang terlibat didalamnya. Peduli kepada sesama, peduli kepada alam, lingkungan, berkehendak menyebarkan aura kesuksesan, membagi kebahagiaan dan banyak lagi makna yang secara batin dapat kita rasakan.

Kemudian saya mendengarkan ‘Audio CD Manual Bisnis’ yang dibawakan oleh Pak Yoki. Saya ‘terpana’, begitu ‘murah’ harga yang saya bayarkan untuk mendapat ‘anugerah’ yang teramat mahal dan berharga ini. Tentang isinya dan manfaat yang saya dapatkan, saya tidak mampu menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan saya. Terlalu banyak sehingga saya tidak bisa menghitung, terlalu besar sehingga saya tidak bisa mengukur. Buat saya, kata-kata yang inspiratif jauh lebih berharga daripada permata. Tidak aneh rupanya bila Dion memiliki banyak sifat yang mengagumkan karena Dion telah berhasil mengaplikasikan sebagian besar petunjuk yang tertera dalam audio cd manual bisnis tersebut.

Kata-kata yang secara instant mampu mengubah perilaku saya, mengubah kualitas hidup saya. Saya mesti katakan hal ini, Dion dan Pak Yoki harus mengetahui apa yang saya rasakan, karena hal ini akan memberi kepuasan kepada saya. Hari ini saya merasa hidup saya lebih bahagia, lebih optimis, lebih semangat, lebih antusias, semuanya mengarah kepada lebih positif. Sejak dahulu saya suka membaca maupun mendengar sesuatu yang membangkitkan motivasi, tetapi sekarang berbeda. Bertemu langsung dengan komunitas orang-orang yang positif jauh terasa lebih nyata dan memberi nyawa ketimbang hanya membaca isi buku dan mendengar audio cd seperti sebelumnya saya lakukan.

Hidup saya menjadi berbeda, hari-hari menjadi lebih ceria, aneh tapi nyata, dan menakjubkan karena ternyata ini adalah ‘fakta’. Mengingat sebelumnya saya adalah pribadi dengan setumpuk kelemahan, diantaranya pemalas, berantakan, menggampangkan masalah, ingin mendapat hasil yang banyak tetapi tidak mau capek, menyia-nyiakan waktu, boros, mudah pesimis dan masih berderet sifat negatif lainnya.

Jangan mengira bahwa kebahagiaan itu timbul karena saya telah mendapat keuntungan material, ‘belum’, karena saya belum berbuat apapun di Nu Skin. Tetapi jangan Tanya keuntungan moral, yang dalam waktu singkat telah saya dapatkan ‘lebih dari yang saya harapkan’. Dan kedepannya belum tersirat oleh saya tentang perolehan material, saya menyukai dan mencintai suasana kehidupan saya saat ini, lalu adakah nilai nominal yang pantas untuk meng’harga’kan semua itu? Keuntungan material kelak bila itupun saya dapatkan, akan menjadi penyempurna dari semua ‘rasa’ yang telah saya peroleh.

Bila pada kemudian hari keuntungan material yang diidamkan tidak berpihak kepada saya, sedikitpun saya tidak akan merasa menyesal, karena saya telah mendapat keuntungan berlipatganda yang saya peroleh dimuka. Apakah saya salah bila berpandangan seperti itu? Materi dikejar untuk menunjang kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan itu sudah saya dapatkan sejak sekarang. Tapi percayalah, sayapun tidak pernah lupa bahwa kekayaan materi tetap sangat penting untuk memfasilitasi segala aktivitas yang aksesnya menjurus kepada ‘kebahagiaan’.

Lalu apa yang hendak saya sampaikan dalam catatan pribadi ini? Saya tidak pandai mengkspresikannya lewat tulisan, sederhana saja, saya ingin mengajak sesama, baik itu keluarga terdekat, teman terdekat, teman yang saya kenal dari beragam status sosial dan aneka profesi untuk berkenalan dengan Nu Skin, produk dan sistem pemasarannya. Kenalilah dunia bisnis yang indah dalam teori dan prakteknya ini, dimana kita bisa berpartisipasi dalam ‘kesetaraan’. Yang kesempatannya terbuka luas bagi setiap orang tanpa membedakan usia, pendidikan, kemampuan ekonomi. Bayangkan, adakah dalam sistem lain akan kita temui suasana seperti ini?

Renungkan lebih jernih, biarkan paradigma baru menyembul dari benak kita, jangan disumbat oleh opini sesat yang selama ini kita pelihara. Saya teringat ketika Dion memberi info tentang undangan untuk menghadiri presentasi, dalam hati saya menjawab ‘thank you for the information, I absolutely will come to comply with the invitation that is really worth coming to’.

Sebelum bergabung menjadi distributor, saya sudah mencoba melatih diri saya untuk belajar melakukan apa yang lazimnya distributor lakukan. Cerita duka pasti ada, tapi itu bukan problema. Dalam kehidupan ini sangat biasa bila tidak semua keinginan kita terpenuhi, lumrah mendapatkan yang berbeda dari yang kita harapkan, teringat pepatah : ‘Tuhan mengalihkanmu dari satu perasaan ke perasaan yang lain, dan mengajarkanmu dengan segala yang bertentangan, supaya engkau memiliki dua sayap untuk terbang, bukan satu’.

Diantara hal yang bertentangan itu, saya pernah mendapat pengalaman yang sangat berharga, yaitu ketika saya bertemu dengan komunitas yang meng’haram’kan bisnis dengan sistem MLM.

Dengan tidak bermaksud membuka masalah ‘SARA’ (suku, agama, ras). Sebagai penganut agama Islam , saya ingin menulis persepsi Islam tentang MLM, dari sumber yang saya pelajari yaitu Al Qur’an dan Hadits Nabi. Andai yang saya paparkan ini benar, maka kebenaran datangnya dari Allah SWT, tetapi bila salah, itu adalah kesalahan saya pribadi, dan saya mohon maaf.

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan seorang tokoh agama Islam, saya sebut ‘tokoh’ karena beliau memimpin salah satu organisasi keagamaan yang cukup besar, dan mempunyai pengikut yang banyak. Saya tidak perlu menyebut namanya, untuk menghindari kesan bergunjing. Dalam pertemuan tersebut, intinya saya bermaksud memperkenalkan tentang Nu Skin kepada beliau. Dan alangkah terkejutnya saya ketika beliau mengatakan bahwa bisnis dengan sistem MLM adalah ‘haram’ hukumnya.

Wah mengerikan sekali, sebagai penganut Islam yang sudah sewajarnya memperhatikan halal dan haram suatu perkara, saya tentu harus hati-hati bertindak, jangan sampai saya terjerumus kepada sesuatu yang haram. Karena menurut ilmu fikih, haram adalah suatu perkara yang terlarang untuk dilakukan, dan bila dilakukan mengakibatkan ‘dosa’ yang ancamannya adalah ‘neraka’.

Lalu saya bertanya, dari sudut pandang manakah sehingga beliau berani mengharamkan MLM? Berikut jawaban beliau:

· EKSPLOITASI TERHADAP DOWNLINE

· LEBIH FOKUS MENJUAL SISTEM DARIPADA PRODUK

· MOTIVASI MATERIALIS

Dengan hati-hati, saya mencoba menganalisa pendapat beliau tersebut yang singkat, padat dan tidak tepat. Pendapat ini bagi saya terlalu naif, namun dengan tidak mengurangi penghargaan saya untuk sebuah pendapat, saya balik bertanya, apakah beliau telah cukup mempelajari sistem MLM melalui sumber yang benar? Sehingga beliau mengetahui tentangnya?

Jika itu hanya pendapat pribadi, saya kira tidak menjadi masalah besar. Tetapi jika beliau mengatakan hal tersebut dari sudut pandang Islam, lalu menyampaikan kepada banyak orang yang meminta petunjuk, yang dengan petunjuk itu kemudian diikuti oleh banyak orang, maka saya berani simpulkan bahwa pemikiran beliau tersebut ‘sesat’ dan ‘menyesatkan’.

Berbanding terbalik dengan pendapat beliau, saya justru menemukan dalam MLM banyak sekali perintah Islam diterapkan. Inilah ajaran Islam yang penuh makna, bukan sekedar retorika. Meskipun kemasannya tidak menunjukkan label Islam, tetapi isinya sangat islami. Sayangnya kita sudah terbiasa disuapi oleh kemasan Islam dalam berbagai label, padahal isinya justru menjauh dari hakikat Islam itu sendiri. Kesalahpahaman yang terjadi bagaikan besi yang berkarat, karena terlalu lama dibiarkan.

Dalam kesempatan ini, saya coba koreksi pendapat beliau tentang penyebab MLM diharamkan. Meskipun kapasitas saya juga masih terbatas pengetahuan Islamnya.

1. EKPLOITASI TERHADAP DOWNLINE

Jika seorang upline mampu menggali potensi, mengarahkan dan memaksimalkan potensi downline, sehingga downline tersebut berhasil mencapai target yang diharapkan. Ini adalah bentuk kerjasama yang bagus dan sangat diperintahkan dalam Islam. Tolong menolong dalam kebaikan, tidak sama dengan eksploitasi dalam konteks pemerasan atau penghisapan. Tidak ada salahnya saling memanfaatkan untuk keuntungan bersama, karena tujuannya positif.

Pada yang namanya eksploitasi, salah satu pihak mengambil keuntungan dengan cara merugikan pihak lain. Dalam MLM tidak ada kasus seperti ini. Upline mendorong downline untuk maju, dilatarbelakangi oleh sikap tanggung jawab untuk menjadikan organisasi/jaringan yang dibangunnya kokoh dan survive. Downline memaksimalkan kemampuannya karena terdorong untuk meraih kebebasan waktu dan finansial yang didambakan di masa depan, dan downline yang cekatan akan melakukannya dengan penuh antusias dan kegembiraan. Jadi dimana letak ‘eksploitasi’ nya?

Malahan disini akan terjalin persaudaraan dan tali kasih sayang antara upline dengan downline yang dalam Islam dikenal sebagai ‘ukhuwah islamiyah’. Saling berbagi ilmu, menuntut ilmu dan memanfaatkan ilmu, itu semua sangat diperintahkan dalam Islam. Antara upline dengan downline seperti satu tubuh, apabila ada salah satu bagian tubuh terasa sakit maka rasa sakit tersebut akan dirasakan oleh bagian tubuh lainnya. Inilah hakikat persaudaraan.

Jelaslah penyebab pertama ini tidak terbukti.

2. LEBIH FOKUS MENJUAL SISTEM DARIPADA PRODUK

Kita tidak boleh menyamaratakan bahwa semua produk yang memakai sistem MLM hanya menjual sistem. Bergantung kepada iktikad para pendiri perusahaan tersebut. Memang ada sebagian yang berkutat di ‘money game’ karena tidak memiliki produk yang berkualitas. Tetapi sebagian besar justru banyak produk MLM yang berkualitas tinggi. Dan tentu saja penjualan produk secara real juga menjadi tujuan. Sistem hanyalah strategi dalam upaya meraih profit maksimal. Lagipula, perusahaan tidak memberi komisi dari sistem ataupun rekrutmen, penghasilan nyata diperoleh distributor dari penjualan nyata.

Apapun sistemnya orang terus berinovasi untuk mendapatkan hasil terbaik. Dan sampai saat ini dan entah sampai berapa tahun ke depan, sistem MLM masih merupakan yang terbaik, terlebih lagi dalam pandangan Islam.

Dalam merekrut orang, akan terjalin ‘silaturrahim’. Islam sangat menganjurkan kepada penganutnya untuk menjaga silaturrahim. Kata Nabi Muhammad SAW, silaturrahim mendatangkan dampak positif yaitu menambah rezeki dan memanjangkan usia. Bahkan memutuskan silaturrahim sangat terlarang dalam Islam.

Lihatlah, berbagai kebaikan yang terangkum dalam sistem MLM. Jujur, kerjasama, ulet, tolong menolong, transparan, visioner, saling berbagi, peduli, adil dan setara. Adakah semua kebaikan itu dalam bisnis konvensional? Manakah yang lebih dominan menerapkan aturan Islam, sistem MLM atau sistem konvensional? Dan andaipun hanya sistem yang diperjualbelikan, adakah aturan yang melarang? Padahal sama-sama kita ketahui, jenis yang boleh diperjualbelikan tidak semata ‘produk atau barang’, tetapi juga ‘jasa’.

Jadi, lagi-lagi penyebab kedua inipun tertolak.

3. MOTIVASI MATERIALIS

Tidak masuk akal apabila ini menjadi penyebab haramnya MLM, mengapa motivasi ini dikatakan haram? Bisa jadi berikutnya akan ada pendapat, bahwa olahraga haram bila motivasinya ingin hidup sehat, bahwa menikah haram bila motivasinya ingin membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan, belajar haram bila motivasinya meraih kepandaian. Karena, walau bagaimanapun pada setiap aktivitas pasti melekat di dalamnya tujuan yang hendak dicapai. Aktivitas bisnis bertujuan mendapat keuntungan, bersifat materi, menghasilkan uang. Untuk apa uang digunakan? Dan bagaimana cara mendapatkan uang? Disitulah Islam berperan mengaturnya. Karena ada etika dan tidak boleh menghalalkan segala cara.

Betapa banyak perintah Islam yang terkait dengan keperluan uang, diantaranya zakat, infak, sedekah, wakaf, umroh, haji, menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, membangun tempat ibadah, membangun tempat pendidikan, menguasai teknologi mutakhir, bahkan perang dalam mempertahankan agamapun membutuhkan biaya mahal.

Menjadi kaya bukan aib atau hal tercela, menjadi kaya bisa mengantarkan orang pada kedudukan mulia di sisi Allah, bergantung kepada bagaimana mensyukurinya dan memanfaatkannya dalam perkara yang Allah sukai. Dalam sejarah permulaan Islam, nyata sekali peran saudagar yang kaya raya dan beriman yang dengan hartanya mereka sangat berperan dalam mendukung kelangsungan dakwah Islam, membiayai jihad, membebaskan perbudakan.

Janganlah sampai terjadi untuk menutupi topeng kemalasan dan kekalahan dalam persaingan, lalu dengan praktis mengatakan bahwa hidup di dunia harus seadanya saja. Sederhana berbeda dengan miskin. Kaya tidak mesti cinta dunia. Menunjukkan kesalehan bukan dengan meminta sumbangan, bergantung kepada orang lain. Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah, artinya memberi selalu lebih terhormat daripada menerima.

Generasi Islam perlu sehat, kuat, cerdas, berpikiran maju, dan itu mudah bila kekayaan ada dalam genggaman. Bayangkan bila kita terpuruk dalam kemiskinan, bisa lahir generasi sakit, lemah, bodoh dan terbelakang. Bisnis ini bertujuan mengantar pelakunya untuk mencapai pintu gerbang menuju kaya, dan itu bukan dosa.

Simak terjemah Al Qur’an Surah 28 (Al Qasas) ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dilengkapi dengan Hadits Nabi : “ Bekerjalah kalian seakan-akan kalian hidup selamanya, dan beribadahlah kalian seakan-akan kalian akan mati esok hari”. Dengan pedoman tersebut, jelaslah keseimbangan dalam Islam adalah mutlak. Ajaran Islam yang luas dan elastis, tidak perlu dimodifikasi sehingga menjadi sempit dan kaku.

Sering orang mengatakan, bahwa motivasi dari segala sesuatu tindakan haruslah karena mencari ‘ridha Allah’. Ini benar sekali, tetapi perlu dipahami bahwa ridha Allah itu bukan hiasan kata, yang utama adalah maknanya. Bila semua yang kita kerjakan tidak menyimpang dari ketentuan Allah, dan kita lakukan karena kita yakin bahwa Allah memerintahkan, maka otomatis kita mendapat ridha Allah.

Jadi kita jangan terjebak pada kemasan yang nampak Islam, sumber Islam yang hakiki adalah firman Allah dalam Al Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad yang terangkum dalam kumpulan hadits. Tidak peduli seberapa hebat dan terkenalnya tokoh Islam, bila pernyataannya tidak bersumber kepada Al Qur’an dan Hadits Nabi dan lebih mementingkan selera pribadi, maka ‘lupakan’. Kesimpulannya, penyebab ketiga inipun tidak dapat diterima.

Akhirnya, jangan pernah ragu dan merasa lemah, sebenarnya sistem MLM lah yang paling mengapresiasi ajaran Islam. Tetapi Islam menghormati perbedaan pendapat. Silakan gunakan rasio, hati nurani, dan Insya Allah bila kita terbuka untuk menerima kebenaran, maka semua akan berjalan dengan mudah.

Demikian sekelumit pengalaman saya bersama NU SKIN, saya tuliskan dengan harapan, semoga tulisan ini bisa menjadi penyeimbang bagi sekelompok orang yang apriori terhadap Nu Skin dengan MLM nya, dan menjadi pemicu semangat bagi segelintir orang yang siap bergabung dan menempatkan diri dalam prospek bisnis yang spektakuler. Maaf untuk kata-kata yang tidak berkenan, evaluasi serta koreksinya saya nantikan.

Artikel

SERIAL CATATAN PRIBADI

DUNIA USAHA YANG TERCERAHKAN

Masih terinspirasi oleh ketertarikan kepada kepribadian Dion dan Pak Yoki, yang dengan kebaikannya telah mengantar saya sampai di Nu Skin. Saya belakangan jadi terdorong menuliskan catatan pengalaman pribadi yang tentunya menjadi kisah nyata kehidupan saya bersama Nu Skin. Catatan inipun masih berkaitan dengan catatan sebelumnya.

Teringat dengan apa yang dikatakan oleh Walt Disney: “Lakukan apa yang Anda lakukan dengan begitu baik, sehingga ketika orang melihat apa yang Anda lakukan, mereka ingin datang lagi dan membawa teman-teman mereka”. Tidak salah lagi, sungguh tepat bila Walt Disney memiliki filosofi seperti itu, dan kenyataannya, ‘mencengangkan’. Betapa keuntungan milyaran dolar mengalir masuk ke Disney Enterprise berkat filosofi itu.

Saya tertegun, membayangkan bahwa saya sekarang, hari ini, tidak perlu menunggu sampai esok hari, sedang melangkah menuju gerbang dunia usaha yang ‘tercerahkan’, yang didalamnya berisi orang-orang yang saya percaya pasti melakukan kebaikan. Kepercayaan ini bukan emosional semata, karena saya nyata mendapatkannya, kebaikan yang begitu menyentuh, kebaikan yang selama ini sepertinya menjadi makhluk asing dalam dunia usaha konvensional.

Gagasan kebaikan yang diusung oleh Dion dan Pak Yoki dalam mengembangkan bisnis ini, boleh jadi adalah realisasi dari visi dan misi Nu Skin Enterprise, yang wujud nyatanya bisa dilihat dari pribadi para pebisnis yang terlibat di dalamnya. Saya bangga dan bahagia menjadi bagian dari organisasi/jaringan ini.

Victor Hugo berujar: “Serangan dari sepasukan tentara masih bisa dikejar. Tetapi munculnya sebuah gagasan yang baik, sulit dibendung”. Alangkah mempesonanya, membangun jaringan usaha yang dijiwai kebaikan, ketulusan, membangun dengan kecintaan terhadap sesama.

Dalam BOM yang berikutnya sering saya hadiri, saya berjumpa dengan insan-insan pengusung kebaikan, yang dalam testimoni mereka, selalu mereka ungkapkan, bahwa mereka terlibat dalam bisnis ini bukan semata mencari keuntungan material.

Mereka ingin berbagi kebaikan, menebar kebahagiaan, mengajak orang untuk turut merasakan kenyamanan yang mereka rasakan, membimbing orang untuk meraih kesuksesan. Alangkah ideal tujuan yang hendak dicapai, dan saya bisa pastikan , semua ini tidak akan sia-sia.

Dan persis seperti yang Walt Disney prediksikan di atas, ‘lakukan apa yang Anda lakukan dengan begitu baik, sehingga ketika orang melihat apa yang Anda lakukan, mereka ingin datang lagi dan membawa teman-teman mereka’. Inilah yang terjadi pada diri saya. Ketika Dion dan Pak Yoki melakukan dengan begitu baik, limpahan kebaikan yang saya terima rasanya menjadi lebih sempurna bila saya sebarkan juga kepada teman-teman yang lain. Sayapun tanpa diminta otomatis melakukan apa yang mereka lakukan.

Saya mengajak teman-teman di luar sana, mengundang teman-teman untuk menghadiri BOM, mengajak teman-teman mengenal bisnis ini baik produk maupun sistemnya, dan utamanya mengajak teman-teman mengenal pribadi orang-orang yang terlibat di dalamnya, untuk turut merasakan aura kebaikan dan cinta yang terpancar dari mereka, pebisnis yang ada di Nu Skin.

Saya terdorong untuk me’masyarakat’kan Nu Skin dan me’Nu Skin’kan masyarakat, mungkin begitulah bahasa sederhananya. Menyebarkan kebaikan, siap berkontribusi dalam kesejahteraan, mengubah dunia usaha yang buram dan menggantinya dengan dunia usaha yang tercerahkan.

Kita sama-sama sudah jenuh dengan metode dalam dunia usaha yang kaku, yang mengejar tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, namun dengan saling menjatuhkan pesaing, dibumbui iklan yang menyesatkan, target yang tiada akhir. Dan kita bisa saksikan dampak negatif kepada pelakunya, kehilangan kebebasan waktu, tekanan pekerjaan yang merusak kenyamanan hidup, kecemasan tiada akhir dan ujung-ujungnya tetap kekurangan penghasilan.

Terkadang saya bertanya dalam hati, kenapa ya kesan buruk terhadap MLM sulit sekali dilepas dari pemikiran banyak orang? Kesalahan apa yang pernah ditorehkan sebelumnya oleh para pendahulu pelaku MLM? Sehingga ketika kita hari ini mengajak orang untuk memasuki dunia usaha yang tercerahkan ini, mayoritas dari mereka yang kita ajak malah‘,menghindar’.

Boleh jadi tidak ada kesalahan yang dilakukan, namun ‘paradigma’ orang selama ini telanjur salah. Menjadi tugas mulia bagi kita untuk ‘mensosialisasikan’ keunggulan MLM, baik melalui lisan maupun tulisan.

Mengutip Burke Hedges dalam bukunya ‘Copycat marketing 101’, ada bagian yang cukup menarik untuk kita simak, ketika beliau menjelaskan bahwa Multi Level Marketing atau Network Marketing adalah sinergisme yang paling hebat. Karena MLM memenuhi persyaratan sebagai sinergisme yang demikian luar biasa, sehingga mampu mempengaruhi setiap orang di dunia untuk dapat meningkatkan dan memperkaya kehidupannya, disebabkan antara lain:

  • MLM mudah diduplikasi, sehingga setiap orang dapat dengan mudah menirunya.
  • MLM murah dan terjangkau, sehingga setiap orang bisa ikut serta.
  • MLM tumbuh secara eksponensial dan bukan secara linier.
  • MLM bisa diperoleh di seluruh dunia.
  • MLM bisa dijalankan oleh pria dan wanita, tua dan muda, serta orang kaya maupun orang miskin.
  • MLM adalah sistem peniruan yang paling hebat untuk menciptakan kekayaan.

Sinergisme ini adalah suatu perkawinan yang sempurna, karena merupakan gabungan kreatif dari dua sarana pencipta kekayaan yang paling hebat dalam sejarah dunia, yaitu perpaduan antara sistem waralaba dengan sistem pertumbuhan secara eksponensial. Dan semua itu menjadikan MLM sebagai konsep sinergi yang luar biasa dan brilian. MLM menjadi bisnis bagi orang-orang ‘biasa’ dengan penghasilan ‘luar biasa’.

MLM merupakan sistem pemasaran yang paling efektif dan paling etis di dunia, sebagian ahli menyebutkan MLM sebagai langkah lanjut dari evolusi perusahaan bebas. Sangat menyenangkan karena saya sudah bergabung disini dan memposisikan diri pada awal sebuah gerakan bisnis yang akan menggoncang dunia. Sekali lagi, MLM adalah ‘gerakan’ bisnis, bukan sekedar ‘trend’ bisnis.

Saya ingin menjadi bagian dan menikmati keuntungan gerakan yang ‘fenomenal’ ini. Saya terkesan pada pendapat Larry A. Thompson dalam bukunya ‘SHINE, Andapun bisa jadi bintang’. Saya kutip sebagian pendapatnya: “Jika Anda mempunyai hasrat dan semangat – Kemauan Keras - Anda bisa menjadi ‘Bintang’ pada apapun yang Anda lakukan. Dengan mengingat :

· Sebesar apa Kemauan Keras Anda, sebesar itulah keinginan Anda.

· Sebesar apa keinginan Anda, sebesar itulah tindakan Anda.

· Sebesar apa tindakan Anda, sebesar itulah takdir Anda.

Anda tidak perlu sempurna untuk menjadi seorang ‘Bintang’, menurut Larry, yang terpenting Anda memiliki aura kepercayaan diri. Dan bayangkan betapa berbedanya hidup Anda jika:

· Anda bisa merasa senang setiap saat.

· Anda bisa menolak permintaan orang lain dengan nyaman.

· Anda bisa berbicara di depan umum tanpa merasa konyol atau grogi.

· Anda bisa mengendalikan suara negatif dalam kepala Anda.

· Anda bisa berkomunikasi dengan penuh percaya diri.

· Anda memiliki kepercayaan diri untuk berganti karier.

· Anda tidak membiarkan perkataan orang lain mematahkan semangat Anda.

· Anda bisa bertindak, berjalan, dan berbicara dengan penuh keyakinan.

· Anda tidak pernah takut pada kegagalan.

Saya kutip hal tersebut di atas karena ini selaras dengan kebutuhan kita untuk membentuk ‘perbedaan yang nyata’ THE DIFFERENCE DEMONTRATED, sesuai dengan motto Nu Skin.

Dunia usaha yang tercerahkan adalah dunia usaha yang saya dambakan, dan saya tidak akan berpangku tangan untuk meraih dambaan ini. Dion dan Pak Yoki telah membuka jalan, menyiapkan kendaraan dan menunjukkan rambu-rambunya. Bersama Nu Skin saya siap menempuh perjalanan panjang menuju dunia usaha yang tercerahkan.